🚨
Anemia pada Kehamilan, Salah Satu Faktor Risiko Stunting yang Perlu Diwaspadai
Nirwanapedia

Anemia pada Kehamilan, Salah Satu Faktor Risiko Stunting yang Perlu Diwaspadai

Tim RSU Nirwana
22 Jun 2026
Tim RSU Nirwana22 Jun 2026Nirwanapedia

Banyak orang menganggap bahwa stunting baru terjadi setelah bayi lahir. Padahal, berbagai faktor yang berperan terhadap terjadinya stunting dapat dimulai sejak masa kehamilan. Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian adalah anemia pada ibu hamil.

Anemia merupakan masalah kesehatan yang masih sering ditemukan selama kehamilan. Selain dapat memengaruhi kesehatan ibu, kondisi ini juga berpotensi berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin. Oleh karena itu, mengenali anemia dan melakukan pencegahan sejak dini menjadi langkah penting dalam upaya mencegah stunting.

Apa Itu Anemia pada Kehamilan?

Anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal. Hemoglobin berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke janin yang sedang berkembang di dalam kandungan.

Menurut World Health Organization (WHO), anemia pada kehamilan didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dL. Ketika kadar hemoglobin menurun, kemampuan darah untuk mengangkut oksigen menjadi berkurang sehingga kebutuhan oksigen ibu maupun janin mungkin tidak terpenuhi secara optimal.

Beberapa gejala anemia yang sering dialami ibu hamil antara lain:

  • Mudah lelah

  • Pusing

  • Wajah tampak pucat

  • Sesak saat beraktivitas

  • Jantung berdebar

Namun, pada beberapa kasus, anemia dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin sangat penting untuk mendeteksi kondisi ini sejak dini.

Mengapa Anemia pada Kehamilan Berkaitan dengan Risiko Stunting?

Selama kehamilan, janin membutuhkan oksigen dan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan organ serta perkembangan tubuhnya. Ketika ibu mengalami anemia, pasokan oksigen dan nutrisi ke janin dapat terganggu.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anemia pada kehamilan dapat meningkatkan risiko beberapa kondisi yang berhubungan dengan stunting, seperti:

  • Berat badan lahir rendah (BBLR)

  • Kelahiran prematur

  • Hambatan pertumbuhan janin dalam kandungan

Bayi yang lahir dengan kondisi tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan pada masa bayi dan balita, termasuk stunting.

Meskipun anemia bukan satu-satunya penyebab stunting, kondisi ini merupakan salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya stunting apabila tidak ditangani dengan baik.

Apa Kata Penelitian?

Berbagai penelitian telah mengkaji hubungan antara anemia pada kehamilan dan kejadian stunting pada anak.

Sebuah systematic review yang dipublikasikan oleh Nadhiroh dan rekan-rekannya pada tahun 2023 menemukan bahwa anemia pada ibu memiliki hubungan dengan meningkatnya risiko stunting pada bayi dan anak usia 0 hingga 60 bulan, terutama di negara berkembang.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Nurjanah dan Arifaningtyas (2026) juga menunjukkan adanya hubungan antara riwayat anemia selama kehamilan dengan kejadian stunting pada balita.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan, bahkan sebelum bayi lahir.

Cara Mencegah Anemia Selama Kehamilan

Pencegahan anemia dapat dilakukan melalui beberapa langkah sederhana, antara lain:

1. Mengonsumsi makanan kaya zat besi

Sumber zat besi dapat diperoleh dari daging merah, hati, ikan, ayam, telur, dan kacang-kacangan.

2. Memperbanyak konsumsi buah dan sayur

Buah dan sayuran yang mengandung vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi secara lebih optimal.

3. Mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran

Tablet tambah darah merupakan salah satu upaya penting untuk memenuhi kebutuhan zat besi selama kehamilan.

4. Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC)

Pemeriksaan antenatal care membantu tenaga kesehatan memantau kondisi ibu dan mendeteksi anemia sedini mungkin.

 

Kesimpulan

Anemia pada kehamilan merupakan salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya stunting melalui berbagai mekanisme, seperti berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, dan gangguan pertumbuhan janin.

Karena itu, menjaga kadar hemoglobin tetap normal selama kehamilan bukan hanya penting bagi kesehatan ibu, tetapi juga merupakan bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang anak yang optimal.

Kehamilan sehat hari ini adalah investasi bagi generasi masa depan.

 

Referensi

  1. World Health Organization (WHO). Anaemia. Available from: https://www.who.int/data/nutrition/nlis/info/anaemia

  2. Nadhiroh SR, Micheala F, Tung SEH, Kustiawan TC. Association between maternal anemia and stunting in infants and children aged 0–60 months: A systematic literature review. Nutrition. 2023;115:112094.

  3. Bekele GG, et al. The effect of maternal anemia during pregnancy on low birth weight in Ethiopia: a systematic review and meta-analysis. BMC Pregnancy and Childbirth. 2025;26(1):5.

  4. Kharate MA, Choudhari SG. Effects of Maternal Anemia Affecting Fetal Outcomes: A Narrative Review. Cureus. 2024;16(7):e64800.

  5. Nurjanah, Arifaningtyas N. Hubungan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sanden Kabupaten Bantul. Nutrition and Health Research Journal. 2026;1(2).

Bagikan artikel ini:

Hubungi Kami