🚨
Kabut Asap di Banjarbaru: Waspadai Dampaknya bagi Kesehatan Pernapasan
Nirwanapedia

Kabut Asap di Banjarbaru: Waspadai Dampaknya bagi Kesehatan Pernapasan

Tim RSU Nirwana
05 Sep 2026
Tim RSU Nirwana05 Sep 2026Nirwanapedia

Beberapa waktu terakhir, kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Banjarbaru. Kondisi ini tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, tetapi juga perlu menjadi perhatian dari sisi kesehatan.

Pada 28 Agustus 2026, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali berdampak pada aktivitas masyarakat di Banjarbaru. Pemerintah dan masyarakat setempat turut membagikan masker sebagai salah satu upaya mengurangi risiko gangguan pernapasan.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Banjarbaru juga telah mengubah jam masuk sekolah menjadi pukul 09.00 WITA dan meminta sekolah meniadakan aktivitas di luar ruangan selama kondisi kabut asap masih terjadi.

Asap dan Partikel Halus Dapat Mengganggu Pernapasan

Kabut asap dari karhutla mengandung berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2.5. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat terhirup hingga bagian dalam paru-paru dan memberikan dampak terhadap kesehatan pernapasan.

Paparan asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, pilek, tenggorokan terasa gatal atau mengganjal, mata perih dan berair, hingga napas terasa tidak nyaman. Pada orang dengan penyakit pernapasan tertentu, paparan asap juga dapat memperburuk gejala.

ISPA Perlu Diwaspadai

Dampak kabut asap terhadap kesehatan pernapasan juga menjadi perhatian di Banjarbaru. Data Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru yang dipublikasikan pada Agustus 2026 mencatat 21.323 kasus ISPA secara kumulatif sejak Januari hingga Juli 2026. Jumlah kasus mingguan juga meningkat dari 879 kasus pada minggu epidemiologi ke-29 menjadi 1.099 kasus pada minggu berikutnya.

Namun, penting dipahami bahwa ISPA memiliki berbagai penyebab dan tidak setiap keluhan setelah terpapar asap berarti seseorang mengalami ISPA. Asap dan polusi udara dapat mengiritasi saluran pernapasan serta meningkatkan risiko atau memperburuk gangguan pernapasan.

Siapa yang Perlu Lebih Waspada?

Setiap orang dapat terdampak oleh kualitas udara yang buruk. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan yang lebih serius, seperti:

  • Bayi dan anak-anak
  • Lansia
  • Ibu hamil
  • Orang dengan asma
  • Orang dengan penyakit paru kronis
  • Orang dengan penyakit jantung

Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk memberikan perlindungan ekstra kepada kelompok-kelompok tersebut.

Bagaimana Melindungi Diri dari Kabut Asap?

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap:

1. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Terutama ketika kualitas udara sedang buruk atau kabut asap terlihat semakin pekat.

2. Gunakan masker saat harus keluar rumah
Masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel di udara. Kemenkes secara khusus mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk.

3. Batasi aktivitas fisik berat di luar ruangan
Aktivitas fisik dapat meningkatkan jumlah udara yang masuk ke paru-paru sehingga paparan polutan juga dapat meningkat.

4. Perhatikan kualitas udara
Pantau informasi kualitas udara dan sesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan.

5. Kenali keluhan yang muncul
Jangan mengabaikan batuk, sesak, atau gangguan pernapasan yang muncul setelah terpapar asap, terutama jika keluhan semakin berat.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak atau kesulitan bernapas, napas berbunyi, nyeri dada, atau keluhan pernapasan yang semakin berat.

Bagi penderita asma, penyakit paru kronis, penyakit jantung, serta kelompok rentan lainnya, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada.

Kabut asap mungkin tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terhadap tubuh tetap perlu diperhatikan. Dengan mengurangi paparan, menggunakan masker saat diperlukan, dan mengenali tanda-tanda gangguan pernapasan sejak dini, kita dapat membantu melindungi diri dan keluarga di tengah kondisi udara yang kurang bersahabat.

Bagikan artikel ini:

Hubungi Kami